Minggu, 11 Oktober 2009

Pembangunan di FKIP Bagus, Tetapi Belum Tepat Sasaran

Pemandangan yang berbeda terlihat jelas di kampus FKIP. Pasalnya akhir-akhir ini terjadi pembangunan besar-besaran di FKIP. Dari pembangunan gedung F yang megah, kemudian disusul lapangan basket dan futsal serta shelter-shelter yang telah dilengkapi dengan hotspot yang mampu mengubah citra FKIP menjadi lebih berkelas.
Melihat realita tersebut, LPM Motivasi berusaha menggali pendapat dari mahasiswa FKIP mengenai pembangunan di FKIP selama ini dengan penyebaran polling kepada mahasiswa FKIP. Penyebaran polling dilakukan pada minggu pertama bulan Oktober secara acak (random sampling) dengan jumlah responden 143 mahasiswa. Dari hasil polling yang telah dilakukan sebanyak 57,9% responden menyatakan bahwa pembangunan yang dilakukan di FKIP selama ini sudah bagus. Alasan yang mereka ungkapkan pun beragam, dengan adanya pembangunan tersebut mahasiswa mendapatkan fasilitas yang lebih baik. Selain itu, pembangunan di FKIP mencerminkan adanya peningkatan yang terjadi di FKIP sendiri. Sedangkan 36,8% responden menyatakan bahwa pembangunan di FKIP biasa saja. Alasan yang mereka kemukakan adalah karena pembangunan belum dilakukan secara optimal, seperti kamar mandi yang kurang layak dan bersih. 5,3% responden lainnya menyatakan tidak mengetahui akan pembangunan di FKIP.
Menanggapi pertanyaan selanjutnya, ”Sudah tepat sasarankah pembangunan tersebut?”, sebanyak 68,43% menyatakan belum tepat karena pembangunan di FKIP masih hanya berpusat pada fasilitas luar gedung saja, sedangkan fasilitas dalam gedung terkadang terabaikan. Seperti yang diungkapkan oleh Artati, ”Menurut saya, FKIP hanya membangun bagian luarnya saja agar terlihat megah oleh orang yang melihatnya, tetapi FKIP tidak memperhatikan jika banyak sekali ruang kelas yang harus diperhatikan, jangan hanya luarnya saja.”Sebaliknya sebanyak 21,05% menyatakan bahwa pembangunan di FKIP sudah tepat sasaran dan 10,53% lainnya menyatakan tidak tahu.
Dari sebagian responden menyatakan bahwa sebaiknya yang menjadi prioritas utama dalam pembangunan di FKIP adalah ruang kuliah yang sampai saat ini masih kurang memadai. Selain itu diungkapkan bahwa fasilitas umum seperti toilet, kamar mandi, dan sarana prasarana lainnya juga perlu diperhatikan (diperbaiki).

*) Polling tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan seluruh mahasiswa FKIP UNS

Kemanakah Dana IOM??

Iuran Orang Tua Mahasiswa yang sering disebut IOM dari tahun ke tahun selalu meningkat. Angkatan 2006 ke angkatan 2007 mengalami kenaikan dari Rp 500.000,00 menjadi Rp 800.000,00. Disusul angkatan 2008 iuran minimal adalah Rp 1.000.000,00 yang semula Rp 800.000,00 naik 20 %. Bila dikalikan dengan jumlah mahasiswa regular di FKIP dana IOM yang masuk bisa mencapai jutaan rupiah.

IOM adalah dana yang wajib dibayar oleh mahasiswa reguler FKIP UNS. Tak banyak mahasiswa yang tahu tentang fungsi IOM, ketika ditanyakan kepada beberapa mahasiswa tentang fungsi dana IOM jawabannya bermacam-macam. “Kalau soal fungsi dana IOM saya kurang tahu, setahu saya dana IOM ini untuk biaya pembuatan lab-lab,” ungkap Tari mahasiswa prodi Bahasa Indonesia ’08 FKIP UNS. Mengenai dana IOM tersebut telah digunakan untuk membuat gedung UKM, membantu pembuatan gedung F, dan khusus untuk angkatan ’08 dana IOM direncanakan untuk membeli seratus unit komputer , tetapi yang terealisasi baru 50 komputer. Marzuki mengungkapkan bahwa sampai saat ini program kerja IOM sudah terealisasi semua sebagai contoh gedung UKM , komputer, dan gedung F. “Tetapi untuk gedung F pembuatannya tidak semuanya berasal dari dana IOM, IOM hanya sedikit membantu saja,” Tambah Sumarsono selaku sekretaris IOM.

IOM Hanya untuk Mahasiswa Reguler
IOM hanya dikenakan bagi mahasiswa regular, sementara mahasiswa nonreguler bebas dari IOM. Menurut salah satu mahasiswi FKIP UNS Prodi Bahasa Indonesia ’06 hal itu sudah sepantasnya karena mahasiswa nonreguler sudah membayar biaya yang besar tiap semester. “Kalau saya sendiri tidak keberatan bila hanya mahasiswa yang reguler saja yang dikenakan IOM, lagi pula kan dana IOM itu digunakan untuk kesejahteraan mahasiswa juga dan hanya dibayar satu kali saja selama kuliah,” ungkapnya. Ketika dikonfirmasikan kepada Marzuki selaku ketua IOM dan Sumarsono selaku sekretaris IOM mengutarakan bahwa memang benar IOM hanya dikenakan untuk mahasiswa regular saja. Sedangkan mahasiswa nonreguler bebas IOM. Hal ini merupakan pertimbangan dari fakultas karena mengingat biaya yang dikeluarkan oleh mahasiswa nonreguler lebih besar dibanding mahasiswa regular sehingga fakultas memberi kebijakan bahwa mahasiswa nonreguler dibebaskan dari IOM. “Sebenarnya kalau saya sendiri tidak akan membeda-bedakan antara mahasiswa regular dan mahasiswa nonreguler. Semua akan saya kenakan IOM. Karena mahasiswa nonreguler juga menikmati fasilitas-fasilitas dari dana IOM, tetapi berhubung ada kebijakan fakultas jadi mahasiswa nonreguler bebas IOM,” Jelas Marzuki.

Struktur Kepengurusan IOM Belum Ada Reorganisasi
Masa jabatan pengurus IOM yang diketuai oleh Marzuki sebenarnya telah berakhir pada tahun 2008 bersamaan dengan berakhirnya masa jabatan Dekan FKIP UNS periode 2003-2008, Trisno Martono. Tetapi, berhubung usulan dari Trisno Martono akhirnya pengurus IOM yang masa jabatannya telah berakhir di angkat kembali dengan dikeluarkannya SK oleh Dekan FKIP UNS yang baru Drs. Furqon Hidayatullah, “Kami diangkat tahun 2003 dan seharusnya masa jabatan kami berakhir tahun 2008, tetapi karena usulan dari fakultas akhirnya kami diangkat kembali,” ungkap Marzuki. “Dan fakultas sendiri yang mengusulkan adalah Bapak Trisno Martono Dekan FKIP UNS periode 2003-2008,” tambah Sumarsono selaku sekretaris IOM. Setelah diangkat kembali tahun 2008 sampai sekarang, untuk ketua, sekretaris, dan bendahara tetap sama dan untuk kepengurusan lain ada yang sudah ganti.

Ratna_

Laporan Terlambat, Dana Terhambat

Dana PKM yang telah disetujui oleh Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) maupun Daftar Isian Pencairan Anggaran (DIPA) akan cair dalam dua tahap. Tahap pertama cair sebesar 70% dan tahap kedua sebesar 30% setelah mengumpulkan laporan pertanggungjawaban. Namun, jika ada yang belum mengumpulkan LPJ, dana belum bisa cair karena ini sifatnya kolektif.

PKM merupakan program kreativitas mahasiswa yang diadakan oleh DIKTI dan DIPA. Program kreativitas mahasiswa dikembangkan guna mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang baik.Jenis-jenis PKM antaralain: PKM Penelitian (PKMP), PKM Penerapan Teknologi (PKMT), PKM Kewirausahaan (PKMK), PKM Pengabdian Pada Masyarakat (PKMM), dan PKM Menulis Ilmiah (PKMI). Dana untuk setiap jenis PKM berbeda-beda, tergantung jenis PKMnya. Dana dari DIKTI sebesar Rp 6.000.000,00 dan dana dari DIPA sebesar Rp 1.500.000,00.
Dana PKM yang telah disetujui oleh DIKTI maupun DIPA akan cair dalam 2 tahap. Tahap pertama cair sebesar 70% dan tahap kedua sebesar 30% setelah membuat laporan pertanggungjawaban atas proposal yang diajukan. Apabila semua peserta PKM mengumpulkan laporan tepat waktu, dana 30% tersebut dapat segera cair. Namun, kenyataanya dana PKM yang 30% tak kunjung cair hingga hitungan bulan. “wahh lama banget sampai berbulan bulan. Apalagi yang DIPA sampai sekarang belum cair padahal LPJku sudah beberapa bulan yang lalu” papar Irma mahasiswa Fakultas Pertanian. Senada dengan Irma, sisa dana PKM belum turun hingga delapan bulan lamanya. “Dana PKM tahap keduaku belum turun sampai delapan bulan padahal laporannya sudah disusun,” tambah Adi
Menanggapi keterlambatan pencairan sisa dana PKM, Kabiro Kemahasiswaan menegaskan bahwa pencairan dana yang 30% tersebut tergantung dari pengumpulan laporan penelitian oleh mahasiswa peserta PKM. “Berhubung pencairan dana tersebut bersifat kolektif maka apabila ada peserta yang belum mengumpulkan laporan, dana tersebut tidak bisa dicairkan,” ujar Hartono selaku Kabiro Mawa.
“Inilah yang kadang tidak terasa, mengapa pencairan dananya begitu lama,” tutur Hartono. Keterlambatan pengumpulan laporan peserta PKM yang satu dapat menghambat pencairan dana untuk peserta PKM yang lain. Namun, kendala-kendala itu tidak akan terjadi jika semua peserta PKM yang terlibat di dalamnya segera bertindak proaktif, yaitu disiplin dan tepat waktu dalam mengumpulkan laporannya.

Abied_Ratna

AKSI BEM DINILAI SEKADAR FORMALITAS


Sejumlah mahasiswa menilai aksi yang dilakukan Forum Bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (Forbes BEM) UNS masih sekadar formalitas. Pasalnya aksi-aksinya tak menggoyahkan kebijakan birokrat kampus yang sudah diketok palu.

Salah satunya seperti yang diungkapkan seorang mahasiswa yang enggan disebut nama fakultas dan jurusannya, Dwi. Menurutnya, dari hasil pengamatan beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran tujuan aksi yang dilakukan oleh BEM. Yakni yang semula tujuannya untuk memperjuangkan hak mahasiswa kini hanya untuk membentuk opini publik saja sehingga aksi tersebut bisa dinilai sekadar formalitas. ”Aksi menjadi tidak penting, jangan-jangan hanya ingin keliatan ada aksi saja,” tutur Dwi, salah satu mahasiswa FKIP.
Hal tersebut juga sama seperti yang diungkapkan oleh Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (Himprobsi) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS, Yunianto. Ia mengatakan bahwa aksi BEM tidak ada gregetnya. Parahnya lagi ujar dia, tujuan aksi yang dilakukan juga tidak diketahui secara jelas oleh peserta aksi yang notabene juga pengurus BEM. “Rata-rata yang di ajak tidak paham betul tentang tujuan aksi dan hanya ikut-ikutan,” jelas Yunianto.
Salah seorang pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Brahmahardhika FKIP UNS, Yadi juga mengemukakan hal yang sama. Menurutnya, selain aksi yang dilakukan hanyalah sekadar formalitas. BEM juga tidak melibatkan pengurus UKM lain untuk mengikuti pembicaraan (audiensi) dengan pihak pimpinan kampus. Akibatnya, banyak mahasiswa yang tidak tahu akan kelanjutan aksi BEM karena kurangnya sosialisasi. ”Dalam pembicaraan dengan birokrat kampus, kami tidak dilibatkan dan apa hasil pembicaraannya pun kami tidak tahu karena tak ada sosialisasi,” ungkapnya.
Sementara itu saat dikonfirmasikan kepada Presiden BEM UNS, Gunawan, ia pun tidak menampik anggapan-anggapan tersebut.. “Kami hanya ingin dilibatkan dalam setiap kebijakan kampus yang berhubungan dengan kepentingan mahasiswa,” tutur Gunawan. Bahkan dia juga mengungkapkan bahwa apabila aksi tersebut tidak berhasil itu tidak apa-apa, yang terpenting adanya perubahan opini publik. Selanjutnya dari poin-poin tuntutan yang diajukan dalam setiap aksi mereka, hanya sebagian kecil yang disepakati. Poin-poin tersebut pun tidak terlalu menyentuh kepentingan mahasiswa. Salah satu contoh atas kegagalan aksi mereka adalah kenyataan bahwa biaya SPP selalu naik 10% tiap tahun ajaran baru.
Menilik dari tahun sebelumnya, sebenarnya penetapan tentang kenaikan SPP 10% sudah disepakati dan diketahui oleh BEM. Seperti yang diungkapkan oleh Pembantu Rektor (PR) III, Dwi Tiyanto. “Kenaikan SPP 10% tiap semester disesuaikan dengan tingkat inflasi yang ada dan dalam penetapannya kami sudah bicarakan dengan mahasiswa,” pungkasnya. dj_jtm

SMS Inbox

SMS INBOX

Ihsan, 085727849xxx
Tolong dong, tempat sampahnya diperbanyak. Kebersihan sebagian dari iman lho,…

Rian, 085728336xxx
Tolong donk AC di ruang 203 dan 204 Bastind diperbaiki. Jarang bisa dihidupkan. Kalau kuliah puanasss sekali lho…

Bayu, 08562812xxx
Kenapa banyak pengemis di dalam kampus. Kepada pihak terkait mohon penertibannya.

Noupa, 0881284xxx
Sekarang di FKIP banyak mahasiswi mengenakan pakaian yang tidak pantas dikenakan di kampus. Meski ada peraturan seragam, tetap saja masih ada yang tidak sesuai. Bagaimana ini pak?

Perdana, 085642172xxx (P. Sejarah)
Assalamualaikum. Sebagai seorang mahasiswa yang menginginkan lingkungan akademis yang baik, saya memprihatinkan banyaknya mahasiswi-mahasiswi yang berpakaian tidak sepatutnya sebagai seorang pelajar, mohon ini disikapi untuk dibuat suatu peraturan disertai sanksi karena kita tahu FKIP bukan mall yang dipenuhi fashion2 sampah!!!

Fuadi, 085647333xxx
Buat FKIP,. Agar pelayanan untuk mahasiswa lebih ditingkatkan lagi, kalau bisa dipercepat kenapa harus dipersulit atau terlambat...

Merokok Berbahaya!

Masalah yang masih perlu diperhatikan, walaupun hal ini menjadi suatu masalah yang sudah lama, yaitu kurangnya kesadaran dan tindakan para perokok yang suka merokok sembarangan di tempat-tempat umum. Khususnya di tempat kita menimba ilmu, dapat dilihat beberapa orang yang dengan santai dan tidak peduli orang di sekitarnya menikmati setiap hisapan rokoknya. Entah karena kecanduan dengan rokok atau hanya untuk menunjukkan jati dirinya dengan merokok.
Padahal sudah banyak peringatan-peringatan akan bahaya rokok bagi dirinya maupun orang lain yang tidak sengaja mengirup asap rokok tersebut dan bahkan sudah ada peraturan-peraturan dilarang merokok. Namun, peringatan-peringatan tersebut hanya tinggal tulisan saja karena tidak ada implikasi dari perokok untuk melakukannya.
Mungkin mereka merasa bahwa merokok sudah hal biasa dilakukan dan mereka tidak memikirkan jangka panjang akibat dari kebiasaan buruk mereka itu. Mungkin ada pembaca yang merupakan salah satu dari mereka dan saya memberikan saran untuk tidak merokok di ruang kuliah dan tempat-tempat umum, karena tidak semua orang menerima kebiasaan merokok tersebut. Jadi, kalau perokok merasa memiliki hak untuk merokok maka mereka yang tidak merokok pun juga memiliki hak untuk bernafas tanpa asap rokok.

Rendha_

BEGOG KELUHKAN KBK

“Dor!!” Tiba-tiba Njenik mengejutkan Begog dari belakang.
“Kamu nik, ngagetin aja!” Sahut Begog yang terkaget
“Habis kamu baca buku serius amat! Ga biasanya Gog.....” Balas Njenik
“Mau gimana lagi Nik, hari ini ada kuis. Padahal tugas mata kuliah lain menumpuk. Susah aku!!” Begog mengeluh
“Sudah, ga usah kebanyakan mengeluh. Biasanya juga ga pernah kamu peduli ma kuliahmu. Ada apa ini, ada apa??” Tanya Njenik penasaran
“Yaaaa, gitu deh..... Mau tau ajah!! He.......... Enggak kok Nik, Cuma pusing aja. Gara-gara KBK ni.” Jawab Begog
“Wah, kalau itu ma senasib Gog. Banyak tugas dan kuis melulu. Ga heran aku, apalagi buat kamu yang notabene jarang kuliah. He....” ledek Njenik
“Kamu Nik! Bukannya ngasih dorongan biar tambah semangat malah ngledek melulu!” Begog kesal
“Iya, iya, maap.... Peace deh kalau gitu. Eh Gog, tu Kangsipon datang.” Sambil melambai Kangsipon
“Eh Kang, lagi sibuk apa ni sekarang?” Sapa Begog pada Kangsipon
“Lagi sibuk galang dana buat korban gempa Gog. By the way, kok sekarang kalian jarang muncul di organisasi? Tanya Kangsipon pada Begog dan Njenik
“Bukan apa-apa sih kang, cuma lagi sibuk ma kuliah aja kok.” Jawab Begog.
“Kamu nik?” tanya Kangsipon pada Njenik
“Sama Kang. Aku juga bener-bener lagi full tugas. Jadi belum sempet nongol di sekre.” Jawab Njenik
“Oh, tak kira ada apa. Ya aku harap meski banyak tugas temen-temen tidak melupakan organisasi.” Kangsipon menasehati
“Iya kang, sebenarnya aku juga gitu. Pengennya sukses kuliah dan lancar berorganisasi. Tapi saat ini aku benar-benar kehabisan waktu buat mengerjakan tugas-tugas kuliah yang menumpuk itu.” Jawab Njenik
“Aku juga Kang. Mau gimana lagi? Kuis-kuis itu menjebakku. Mau-tidak mau aku harus belajar. Kalau tidak, aku yang ketinggalan. Padahal tau sendiri Kang, aku kan paling susah kalau belajar,” Lanjut Begog.
“Iya, aku tau. Memang setelah diberlakukannya KBK tugas-tugas kita semakin padat. Bahkan setiap habis bab kita selalu dihadapkan pada kuis yang tentunya mengharuskan kita belajar. Tapi ya temen-temen harus ingat juga, kesuksesan kita tidak hanya ditentukan oleh akademik saja. Tapi softskill juga sangat berpengaruh. Dan kemampuan softskill bisa terus kita gali lewat berorganisasi. Kan payah juga ketika seorang mahasiswa sukses kuliah dengan IPK coumlaud tapi ketika terjun di masyarakat buat ngomong aja masih gagap. Atau malah menjadi seorang yang apatis tidak peduli dengan masyarakat? Eman-eman banget kan?” Kangsipon kembali menasehati.
“Iya Kang. Tapi menurutku tidak seharusnya mahasiswa dibebankan seperti ini. Harusnya diperhatikan juga waktu buat kita berorganisasi. Biar kuliah dan organisasi bisa berjalan beriringan. Betul ga Gog?” Tanya Njenik pada Begog.
“Betul, betul, betul..... Harusnya kuliah tidak semakin dipadatkan seperti ini. Tapi beri kesempatan bagi kita untuk sedikit bernafas dan menjalankan roda organisasi. Untuk berorganisasi kan kita juga butuh waktu...., ” Keluh Begog.
“Ya, tapi tidak semestinya kalian mengorbankan organisasi. Pintar-pintarnya kalian untuk membagi waktu lah!” Kangsipon menanggapi.
“Sudah kami coba Kang, tapi memang bener-bener sulit............... Ya maaf Kang kalau sekarang kami jarang kelihatan di organisas,” Njenik dengan wajah memelas
“Iya Kang, maap....,” Tambah Begog.
“Ya, aku harap di organisasi kita Begog dan Njenik tidak termasuk orang yang kalah dengan kesibukan kuliah.................,” Jawab Kangsipon.


Dhika_