Dra.Kus Sri Martini.M.Si (Kepala Jurusan P.MIPA): .”penggunaan dan pemakaian rok bagi mahasiswi dan dosen perempuan, Oow..yow wegah no aku, kesrimpet malahan, munggah mudun gedung og.”
Bungkam: “Wah… wah… kalau dosennya saja tidak mau menjadi model atau contoh, lalu mahasiswa akan mencontoh siapa yaa?”
Dra. Rini Budiharti M.Pd: .”Saya berharap agar mahasiswa-mahasiswi saya menjadi calon guru yang baik serta berkarakter cerdas dan kuat.”
Bungkam: “Wah… harapannya bagus itu, semoga terwujud dech. Jangan sampai mahasiswanya berkarakter ketat dan panas.
Laila (Mahasiswi pendidikan Ekonomi Akuntansi ’08): .”Saya sangat setuju adanya tata-tertib ini, kita kan calon pendidik, otomatis pakaiannya harus rapi, dan sopan. Pendidik itu sebagai teladan bagi muridnya. Harusnya kita mendukung, bukan menolak tata tertib ini. Kalau fakultas lain kan tidak dijadikan seorang pendidik, jadi ya tidak masalah, kalau kita kan calon pendiduk. Jadi, saya sangat setuju.”
Bungkam: “Jangan hanya setuju saja, tetapi tata tertib tersebut harus benar-benar dilaksanakan dan dipraktikkan donk!!!.”
Eko (Mahasiswa pendidikan Sosiologi Antropologi): “Selain jadwalnya yang kadang bentrok antara prodi satu dengan yang lain, para pembimbing PPL pun enggan untuk melakukan microteaching dilaboratorium, bahkan lebih sering membawa kami keruang kuliah untuk melakukan praktik microteaching.”
Bungkam: “Yang bentrok cukup jadwalnya saja ya, jangan sampai mahasiswanya ikut bentrok kayak di UNHAS. Masih untung microteachingnya dibawa ke ruang kuliah. Bagaimana coba kalau di bawa ke lapangan?”
Linda (mahasiswa Biologi): “Kami memang sering menggunakan laboratorium microteaching tanpa harus merasa takut jika terjadi bentrok jadwal antara prodi lain karena kami memiliki laboratorium sendiri untuk praktik microteaching.”
Bungkan: “Lho…kok bisa mendapat fasilitas sendiri ya? Yang lain pada bentrok lho…
Widia (Mahasiswa Pendidikan Ekonomi ’09): “... ketika saya sedang hotspotan kadang-kadang di satu tempat ada sinyal, kalau berpindah tempat sinyal hilang dan agak lemot....”
Bungkam: “Untung yang lemot hanya hotspotnya saja. Jangan sampai mahasiswanya ikut-ikutan lemot. Kan bisa bahaya….”
Senin, 19 April 2010
GARA-GARA MATI LAMPU
Gedung C FKIP kini telah banyak berubah dan makin sedap dipandang mata dengan tampilan barunya itu. Gedung C FKIP merupakan kebanggaan mahasiswa P.IPS. Renovasi di beberapa bagian telah selesai dilaksanakan. Bahkan sekarang sudah ada petugas kebersihan, yang dengan sabar membersihkan setiap sisi gedung C setiap hari, meskipun masih ada saja beberapa mahasiswa yang kurang memiliki kesadaran akan kebersihan. Bukankah bersih itu pangkal sehat ? Namun ada satu masalah yang belum terselesaikan, yaitu LISTRIK. Inilah masalah yang selama ini sering dikeluhkan mahasiswa.
Saat perkuliahan lisrtrik gedung C sering padam, akibatnya aktivitas perkuliahan terganggu. Misalnya saja beberapa masalah yang sering dijumpai akibat matinya listrik : ruangan jadi gelap karena diluar mendung sedang lampu mati, presentasi terhenti karena LCD tak jalan, mahasiswa jatuh sakit karena kegerahan dan pengapnya ruang, tidak bisa ke toilet karena air macet, perkuliahan terhenti, dosen jadi tidak konsentrasi, mahasiswa juga tidak konsentrasi karena kegerahan mereka kipas-kipas dengan buku dan tidak memperhatikan kuliah, bahkan ada fenomena baru yaitu banyaknya mahasiswi berpakaian minim dengan alasan “ gerah pak dosen”, dan masih banyak keluhan dan masalah yang timbul gara-gara mati listrik.
Apakah sekarang ini dengan pembangunan yang dilakukan digedung C dan dibukanya FICOS internet dilantai satu gedung C sudah diimbangi dengan penambahan daya listrik atau belum. Hal ini perlu segera mendapat tindak lanjut, karena jika di biarkan akan memberikan dampak yang cukup besar terhadap aktivitas akademik di gedung C FKIP. Sebaiknya setiap gedung di UNS ini memiliki semacam genset tersendiri supaya tidak terjadi hal-hal tersebut diatas. Terimakasih.
Luna cs sej ‘o7
Saat perkuliahan lisrtrik gedung C sering padam, akibatnya aktivitas perkuliahan terganggu. Misalnya saja beberapa masalah yang sering dijumpai akibat matinya listrik : ruangan jadi gelap karena diluar mendung sedang lampu mati, presentasi terhenti karena LCD tak jalan, mahasiswa jatuh sakit karena kegerahan dan pengapnya ruang, tidak bisa ke toilet karena air macet, perkuliahan terhenti, dosen jadi tidak konsentrasi, mahasiswa juga tidak konsentrasi karena kegerahan mereka kipas-kipas dengan buku dan tidak memperhatikan kuliah, bahkan ada fenomena baru yaitu banyaknya mahasiswi berpakaian minim dengan alasan “ gerah pak dosen”, dan masih banyak keluhan dan masalah yang timbul gara-gara mati listrik.
Apakah sekarang ini dengan pembangunan yang dilakukan digedung C dan dibukanya FICOS internet dilantai satu gedung C sudah diimbangi dengan penambahan daya listrik atau belum. Hal ini perlu segera mendapat tindak lanjut, karena jika di biarkan akan memberikan dampak yang cukup besar terhadap aktivitas akademik di gedung C FKIP. Sebaiknya setiap gedung di UNS ini memiliki semacam genset tersendiri supaya tidak terjadi hal-hal tersebut diatas. Terimakasih.
Luna cs sej ‘o7
HOTSPOT DAN LISTRIK FKIP KACAU
Era globalisasi merupakan zaman yang mana internet tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, terutama mahasiswa. Internet begitu erat dengan kehidupan mahasiswa, terutama untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Namun, bagaimana apabila fasilitas internet kampus yang sering disebut hotspot lola (loading lambat)? Tidak hanya fasilitas hotspot yang lola, keadaan ini diperparah dengan keberadaan listrik di shelter-shelter yang tidak dapat digunakan yang mungkin listrik-listrik tersebut terputus atau memang sengaja diputus? Seakan pemanfaatan shelter tidak maksimal ketika kedua fasilitas tersebut tidak dapat berjalan beriringan. Shelter yang ada hanya dijadikan mahasiswa sebagai tempat nongkrong. Shelter terlihat sedikit bermanfaat ketika Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) mengadakan rapat ataupun diskusi.
Terlihat ironis sekali ketika shelter-shelter sudah dibangun, tetapi fasilitas pendukung tidak dapat difungsikan. Inilah keluhan yang marak akhir-akhir ini di fakultas tercinta kita. Sering muncul lontaran dari mahasiswa terhadap fasilitas kampus yang tak dapat digunakan ketika hendak mengerjakan tugas, terutama hotspot dan listrik di shelter. Tak sepi mahasiswa yang merengek akibat internet yang tak dapat digunakan untuk mengunduh materi ataupun referensi dari internet. Memang ketika mengunduh tahap awal internet berfungsi meskipun lambat, tetapi ketika mencapai tahap pertengahan, mahasiswa akan menemukan kegagalan dalam proses itu. Lalu kemana dana yang mahasiswa rogohkan dari kocek untuk SPP yang konon katanya berapa rupiahnya adalah untuk fasilitas internet? Mahasiswa tidak dapat menggunakan secara maksimal akan fasilitas tersebut. Mengapa semua ini dapat terjadi? Ada apa dibalik lambatnya hotspot dan matinya listrik shelter?
Terlihat ironis sekali ketika shelter-shelter sudah dibangun, tetapi fasilitas pendukung tidak dapat difungsikan. Inilah keluhan yang marak akhir-akhir ini di fakultas tercinta kita. Sering muncul lontaran dari mahasiswa terhadap fasilitas kampus yang tak dapat digunakan ketika hendak mengerjakan tugas, terutama hotspot dan listrik di shelter. Tak sepi mahasiswa yang merengek akibat internet yang tak dapat digunakan untuk mengunduh materi ataupun referensi dari internet. Memang ketika mengunduh tahap awal internet berfungsi meskipun lambat, tetapi ketika mencapai tahap pertengahan, mahasiswa akan menemukan kegagalan dalam proses itu. Lalu kemana dana yang mahasiswa rogohkan dari kocek untuk SPP yang konon katanya berapa rupiahnya adalah untuk fasilitas internet? Mahasiswa tidak dapat menggunakan secara maksimal akan fasilitas tersebut. Mengapa semua ini dapat terjadi? Ada apa dibalik lambatnya hotspot dan matinya listrik shelter?
FKIP GAGAS LARANG PENGGUNAAN CELANA BAGI WANITA
Peraturan mengenai penggunaan seragam pada hari Senin Selasa telah berjalan 2 tahun. Namun, praktek dilapangan masih kurang sempurna. Wacana baru kini kembali dihadirkan oleh Fakultas yaitu penggunaan rok bagi mahasiswi dan dosen perempuan.
Tampak sejumlah mahasiswi berjalan lalu lalang melewati tanah bumi FKIP, tak sedikit dari mereka yang masih menggunakan pakaian yang ketat dan kurang sedap untuk dipandang sebagai calon seorang pendidik. Padahal didalam aturan tata tertib cara berpakaian dan berpenampilan yang sudah berlaku melarang keras adanya penggunaan pakaian yang kurang pantas. ”Aturan mengenai tata tertib berpakaian dan berpenampilan tersebut sudah di keluarkan dan disahkan pada tahun 2008 berdasarkan surat edaran Dekan,” ucap Prof. Dr. rer.nat. Sajidan, M.Si selaku PD I saat dimintai keterangan mengenai tata tertib dalam berpakaian dan berpenampilan.
Sempat terdengar kabar bahwa jurusan Pendidikan MIPA akan mencanangkan sejumlah peraturan mengenai tata cara berpakaian dan berpenampilan. Salah satu peraturannya adalah penggunaan rok untuk menggantikan pemakaian celana yang selama ini dianggap terlalu ketat dan tidak sopan untuk para mahasiswi yang notabene adalah calon seorang pendidik. Mengenai penggunaannya tidak hanya berlaku untuk mahasiswi tetapi juga untuk para dosen perempuan. Menurut pendapat salah satu mahasiswi Pendidikan Fisika 2009 FKIP UNS yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa tidak menyetujui dengan adanya penggunaan rok sebagai pengganti dari celana panjang. ”Boleh saja memakai celana panjang yang penting kan tidak ketat, sopan, dan rapi,” ujarnya. Senada dengan mahasiswi P Fisika, Laela mahasiswi pendidikan Ekonomi Akuntansi 2008 FKIP UNS setuju dengan wacana itu. ”Saya sangat setuju adanya tata tertib ini, kita kan calon pendidik, otomatis pakaiannya harus rapi dan sopan. Pendidik itu sebagai teladan bagi muridnya, harusnya kita mendukung bukan menolak tata tertib ini,” paparnya.
Ketika kabar tersebut dikonfimasikan dan ditanyakan kebenarannya kepada Dra. Kus Sri Martini, M.Si. selaku Ketua Jurusan P MIPA mengatakan bahwa kabar itu memang benar adanya, tetapi tidak hanya berlaku untuk P MIPA melainkan untuk semua jurusan yang ada di FKIP. Kabar itu muncul pada rapat di dekanat. Saat itu PD I meminta kepada semuanya yang hadir agar lebih menegakkan peraturan tentang tata tertib cara berpakaian dan berpenampilan bagi para mahasiswa, mengingat adanya banyak pelanggaran yang dilakukan oleh para mahasiswa. Mengenai penggunaan dan pemakaian rok bagi mahasiswi dan dosen perempuan, Kajur P MIPA sendiri tidak menyetujui tentang adanya peraturan tersebut. Dengan logat bahasa Jawanya mengatakan, ”Oow..yow wegah now aku, kesrimpet malahan, munggah mudun gedung og. ” Hal tersebut mengingat selama proses belajar mengajar mahasiswa dan para dosen harus naik turun gedung. ”Selama para mahasiswi masih mau mengenakan celana panjang boleh saja, asalkan masih sopan, rapi, dan tidak terlalu ketat. Kalaupun mereka mempunyai keinginan pribadi untuk memakai rok pun juga tidak masalah,” tambahnya.
Kabar tentang penggunaan rok yang rencananya diarahkan kepada para mahasiswi dan para dosen wanita, untuk sementara ini masih bersifat wacana saja. ”Belum ada SK resminya,” tukasnya. Ketidaktegasan peraturan itu dibenarkan oleh PD I bahwa berita mengenai penggunaan rok bagi mahasiswi dan dosen wanita masih belum resmi. ”itu baru wacana,” ungkapnya.
Mengenai tata cara berpakaian dan berpenampilan di P MIPA menurut Kus Sri Martini, prodi yang pertama kali merespon hal tersebut adalah prodi Fisika. Mengingat banyak mahasiswi fisika yang melanggar tata tertib yang telah tertera. Ketika hal tersebut ditanyakan langsung kepada Dra. Rini Budiharti, M.Pd. selaku Ketua Prodi Fisika membenarkan adanya tata tertib tentang tata cara berpakaian dan berpenampilan yang berlaku di prodi Fisika. Peraturan tersebut adalah untuk menindaklanjuti himbauan PD I saat rapat di dekanat untuk lebih menegakkan tata tertib cara berpakaian dan berpenampilan. ”Karena banyak mahasiswa saya yang melanggar tata tertib maka saya membuat peraturan tata tertib dalam berpakaian dan berpenampilan,” ujarnya
Tata tertib dalam berpakaian dan berpenampilan tersebut sudah diterapkan dua minggu yang lalu, untuk sekarang ini dalam pelaksanaanya belum mengalami kendala dan kesulitan, harapannya dengan diadakannya peraturan tata tertib dalam berpakaian dan berpenampilan ini bisa menjadikan mahasiswa-mahasiswinya menjadi calon seorang guru yang bisa memberi contoh yang baik, berkarakter kuat dan cerdas. ”Saya berharap agar mahasiswa-mahasiswi saya menjadi calon guru yang baik,” pungkasnya.
Qodri & Farra
Tampak sejumlah mahasiswi berjalan lalu lalang melewati tanah bumi FKIP, tak sedikit dari mereka yang masih menggunakan pakaian yang ketat dan kurang sedap untuk dipandang sebagai calon seorang pendidik. Padahal didalam aturan tata tertib cara berpakaian dan berpenampilan yang sudah berlaku melarang keras adanya penggunaan pakaian yang kurang pantas. ”Aturan mengenai tata tertib berpakaian dan berpenampilan tersebut sudah di keluarkan dan disahkan pada tahun 2008 berdasarkan surat edaran Dekan,” ucap Prof. Dr. rer.nat. Sajidan, M.Si selaku PD I saat dimintai keterangan mengenai tata tertib dalam berpakaian dan berpenampilan.
Sempat terdengar kabar bahwa jurusan Pendidikan MIPA akan mencanangkan sejumlah peraturan mengenai tata cara berpakaian dan berpenampilan. Salah satu peraturannya adalah penggunaan rok untuk menggantikan pemakaian celana yang selama ini dianggap terlalu ketat dan tidak sopan untuk para mahasiswi yang notabene adalah calon seorang pendidik. Mengenai penggunaannya tidak hanya berlaku untuk mahasiswi tetapi juga untuk para dosen perempuan. Menurut pendapat salah satu mahasiswi Pendidikan Fisika 2009 FKIP UNS yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa tidak menyetujui dengan adanya penggunaan rok sebagai pengganti dari celana panjang. ”Boleh saja memakai celana panjang yang penting kan tidak ketat, sopan, dan rapi,” ujarnya. Senada dengan mahasiswi P Fisika, Laela mahasiswi pendidikan Ekonomi Akuntansi 2008 FKIP UNS setuju dengan wacana itu. ”Saya sangat setuju adanya tata tertib ini, kita kan calon pendidik, otomatis pakaiannya harus rapi dan sopan. Pendidik itu sebagai teladan bagi muridnya, harusnya kita mendukung bukan menolak tata tertib ini,” paparnya.
Ketika kabar tersebut dikonfimasikan dan ditanyakan kebenarannya kepada Dra. Kus Sri Martini, M.Si. selaku Ketua Jurusan P MIPA mengatakan bahwa kabar itu memang benar adanya, tetapi tidak hanya berlaku untuk P MIPA melainkan untuk semua jurusan yang ada di FKIP. Kabar itu muncul pada rapat di dekanat. Saat itu PD I meminta kepada semuanya yang hadir agar lebih menegakkan peraturan tentang tata tertib cara berpakaian dan berpenampilan bagi para mahasiswa, mengingat adanya banyak pelanggaran yang dilakukan oleh para mahasiswa. Mengenai penggunaan dan pemakaian rok bagi mahasiswi dan dosen perempuan, Kajur P MIPA sendiri tidak menyetujui tentang adanya peraturan tersebut. Dengan logat bahasa Jawanya mengatakan, ”Oow..yow wegah now aku, kesrimpet malahan, munggah mudun gedung og. ” Hal tersebut mengingat selama proses belajar mengajar mahasiswa dan para dosen harus naik turun gedung. ”Selama para mahasiswi masih mau mengenakan celana panjang boleh saja, asalkan masih sopan, rapi, dan tidak terlalu ketat. Kalaupun mereka mempunyai keinginan pribadi untuk memakai rok pun juga tidak masalah,” tambahnya.
Kabar tentang penggunaan rok yang rencananya diarahkan kepada para mahasiswi dan para dosen wanita, untuk sementara ini masih bersifat wacana saja. ”Belum ada SK resminya,” tukasnya. Ketidaktegasan peraturan itu dibenarkan oleh PD I bahwa berita mengenai penggunaan rok bagi mahasiswi dan dosen wanita masih belum resmi. ”itu baru wacana,” ungkapnya.
Mengenai tata cara berpakaian dan berpenampilan di P MIPA menurut Kus Sri Martini, prodi yang pertama kali merespon hal tersebut adalah prodi Fisika. Mengingat banyak mahasiswi fisika yang melanggar tata tertib yang telah tertera. Ketika hal tersebut ditanyakan langsung kepada Dra. Rini Budiharti, M.Pd. selaku Ketua Prodi Fisika membenarkan adanya tata tertib tentang tata cara berpakaian dan berpenampilan yang berlaku di prodi Fisika. Peraturan tersebut adalah untuk menindaklanjuti himbauan PD I saat rapat di dekanat untuk lebih menegakkan tata tertib cara berpakaian dan berpenampilan. ”Karena banyak mahasiswa saya yang melanggar tata tertib maka saya membuat peraturan tata tertib dalam berpakaian dan berpenampilan,” ujarnya
Tata tertib dalam berpakaian dan berpenampilan tersebut sudah diterapkan dua minggu yang lalu, untuk sekarang ini dalam pelaksanaanya belum mengalami kendala dan kesulitan, harapannya dengan diadakannya peraturan tata tertib dalam berpakaian dan berpenampilan ini bisa menjadikan mahasiswa-mahasiswinya menjadi calon seorang guru yang bisa memberi contoh yang baik, berkarakter kuat dan cerdas. ”Saya berharap agar mahasiswa-mahasiswi saya menjadi calon guru yang baik,” pungkasnya.
Qodri & Farra
JALINAN FICOS DAN TELKOMSEL LAHIRKAN TANDA TANYA
.jpg)
Lambatnya fasilitas hotspot FKIP mengundang tanya di benak mahasiswa. Belum terjawab, kini FKIP kembali dikejutkan dengan hadirnya logo Telkomsel yang terpampang di kampus FKIP .
Kampus FKIP beberapa bulan terakhir diresahkan dengan lambatnya fasilitas hotspot. Disusul sekitar sebulan lalu sampai sekarang digegerkan dengan adanya logo Telkomsel di Ficos. Bukan hanya itu, terlihat juga kanopi yang telah terpampang didepan Ficos begitu juga tower yang berdiri tegak di FKIP. Widia selaku mahasiswa Ekonomi 2009 menanggapi, “Semenjak adanya kerja sama antara Telkomsel dengan Ficos terjalin, keadaan Ficos sekarang terlihat adanya peningkatan dan lebih hidup, misalnya, kanopi yang terpampang di luar.” Namun, tak banyak yang tahu mengenai isi dari kerjasama itu.
Anggra selaku mahasiswa Ekonomi 2008 juga tak tahu menahu soal kerjasama itu. “Semenjak adanya kerjasama itu, kalau dipandang secara fisik yaitu ditambah kanopi dan dibuat dengan bentuk yang bagus sehingga ficos kelihatan hidup,” ungkapnya. Namun, kelemahannya komputer di ficos tiba-tiba mati dan tidak bisa conect. Kalau untuk hotspot, Telkomsel belum memberikan perkembangan secara signifikan, “mungkin baru awal, jadi mahasiswa cenderung belum merasakan perubahan. Namun, beberapa hari yang lalu sinyal internet untuk hotspotan tidak bisa digunakan buat download,”paparnya.
Kerja sama Ficos dengan Telkomsel bertujuan untuk memberikan pelayanan yang baik bagi mahasiswa dan untuk promosi Telkomsel. Drs. Sugiyanto, M.Si, M.Si., selaku PD II mengatakan bahwa sepengetahuan saya, Telkomsel melakukan kerjasama dengan Ficos bertujuan untuk memberikan pelayanan yang baik serta promosi untuk Telkomsel. Pelayanan yang baik dalam arti menambah sarana dan prasarana, bagaimana mahasiswa memanfaatkan menggunakan dengan baik, contoh dengan adanya kanopi ketika hujan atau panas maka mahasiswa bisa berhotspotan disitu. Namun, ketika disinggung masalah dampak dari kerja sama telkomsel dengan ficos bagi mahasisiwa. PD II menjelaskan bahwa sejauh ini belum mendapati efek dari kerjasama ini, baginya belum ada dampak negatif tetapi memberikan sebuah pelayanan untuk mahasiswa sebagai tempat mangkal untuk beraktivitas dalam arti hotspotan dan disatu sisi mengembangkan pelatihan kewirausahaan bagi mahasiswa.
Mengenai kondisi sinyal internet yang sering tiba-tiba mati serta listrik yang sudah tidak berfungsi lagi di shelter-shelter FKIP. PD II menyanggahnya. ”Saya belum dapat laporan tentang itu, kondisi sinyal internet yang buruk serta listrik yang sudah lama mati di shelter,” sanggahnya. “Jika ada dampak buruk dari Telkomsel atau pihak lain maka dapat dilaporkan kepada kami,” tambahnya.
Kerja sama antara Telkomsel dan Ficos terjadi karena Telkomsel menawarkan sebuah dana untuk mendirikan sebuah shelter yang khusus dipergunakan bagi mahasiswa pengguna hotspot. Dengan adanya shelter ini maka fasilitas hotspot dapat dikendalikan dengan mudah. Tindakan Telkomsel tersebut sesuai dengan keinginan dari pihak ICT karena FKIP tidak memiliki biaya untuk mendirikan shelter. Seperti yang diungkapkan oleh Agus selaku staff ICT bahwa Telkomsel bersedia memberikan dana kepada FKIP untuk dipergunakan dalam pembuatan shelter. FKIP bukannya kekurangan biaya melainkan anggaran dana di FKIP sudah dianggarkan pada masing-masing program kerja. Selain itu, pada malam hari sering terlihat pengguna hotspot sampai larut malam hal ini membuat pihak fakultas merasa kurang nyaman. Dengan adanya shelter ini maka mahasiswa pengguna hotspot dapat dikontrol dengan cara jaringan internet akan dimatikan paling lambat jam 8 malam. Kami bersedia berkerjasama dengan Telkomsel karena Telkomsel mengusung tema teknologi dan untuk menghilangkan promosi rokok yang akhir-akhir ini diperdebatkan mengenai hukum agama.
Menanggapi lambatnya fasilitas hotspot, Agus selaku staff ICT menjelaskan bahwa sebenarnya kejadian seperti ini adalah ulah dari mahasiswa itu sendiri, sekarang ini sudah ada mahasiswa yang memiliki net card yang mengakibatkan pengguna hotspot lain tidak kebagian jaringan Internet. Kalau servernya tidak ada masalah karena kami sebagai ICT selalu mengecek kondisinya. FKIP merencanakan suatu lampu yang berfungsi secara otomatis, misalnya, lampu yang terkena sensor manusia maka akan menyala secara otomatis atau ketika cahaya matahari telah terbenam maka dengan sendirinya lampu akan menyala. “Jadi shelter-shelter khusus area hotspotan dapat terealisasikan,” harapnya.
Agus Nug _ Alqon
LABORATORIUM MICROTEACHING NGANGGUR

Laboratorium Microteaching yang pemanfaatannya diprioritaskan untuk perkuliahan Microteaching mahasiswa justru tidak digunakan secara efektif. Kebanyakan mahasiswa justru menggunakan ruang kelas sebagai sarana dalam mempersiapkan melakukan PPL.
Microteaching merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa yang akan menempuh PPL. Microteching biasanya dilaksanakan oleh mahasiswa semester VI sebagai bekal dalam mempersiapkan diri agar bisa belajar menjadi guru. Salah satu manfaatnya adalah belajar berkomunikasi dengan calon siswanya sekaligus bisa menyampaikan materi sesuai dengan program studi yang dipelajarinya selama VI semester. Pembantu Dekan II FKIP UNS, Drs.Sugiyanto, M.Si. menyatakan bahwa sekarang ini sudah ada 9 hingga 10 laboratorium microteaching yang berada dilingkungan FKIP UNS. “Laboratorium tersebut sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang dapat menunjang kegiatan mahasiswa dalam melaksanakan PPL, diantaranya whiteboard, TV, dan LCD,” ujarnya.
Hampir semua jurusan mempunyai laboratorium microteaching, tetapi tidak banyak dari mahasiswa yang dapat menggunakannya. “Selain jadwalnya yang kadang bentrok antara prodi satu dengan yang lain, para pembimbing PPL pun enggan untuk melakukan microteaching dilaboratorium microteaching, bahkan lebih sering membawa kami keruang kuliah untuk melakukan praktik microteaching,” tutur Eko, mahasiswa Sosiologi Antropologi. Senada dengan Eko, Sari mahasiswa Ekonomi 2006 mengungkapkan, “Dosen pembimbing kami belum pernah mengajak untuk melakukan microteaching di laboratorium microteaching. Saat microteaching justru dosen lebih sering menyuruh kami untuk terjun langsung praktik mengajar di ruang kuliah mahasiswa ekonomi semester bawah.” Hal itulah yang membuat Sari hingga saat ini belum mengetahui di mana dan fasilitas apa saja yang terdapat pada laboratorium microteaching.
Dari pihak fakultas mengungkapkan sudah menyediakan laboratorium tersebut beserta berbagai fasilitasnya, tetapi mengenai bagaimana cara penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada pihak jurusan. Kalau dirasa kurang efektif, itupun tergantung dari kebijakan jurusan dan tidak semua jurusan juga yang laboratorium microteachingnya juga kurang efektif dalam penggunaanya. Sugiyanto menegaskan, ”Memang tidak semua jurusan mempunyai laboratorium microteaching.”
Laboraturium microteaching masih menjadi masalah, karena mahasiswa PBS dapat menggunakan salah satu ruang yang ada di gedung A sebagai laboratorium microteaching, sedangkan mahasiswa P. IPS tidak bisa menggunakan, bahkan tidak tahu di mana letak laboratorium microteaching mereka. Namun, lain halnya dengan mahasiswa jurusan P. MIPA mereka bisa kapanpun menggunakan laboratorium tersebut tanpa harus takut jika terjadi bentrok jadwal dengan prodi lain. Misalnya saja mahasiswa fisika yang SBI, mereka bisa menggunakan laboratorium microteaching di gedung fakultas jika tidak ada suatu moment tertentu, bahkan tidak hanya mahasiswa fisika SBI saja yang dapat menikmati mewahnya fasilitas laboratorium microteaching yang berada di gedunf F. Sebut saja Linda, mahasiswa Biologi angkatan 2006, ia mengaku hampir setiap mata kuliah microteaching dapat menempati sekaligus memanfaatkan semua fasilitas yang ada dilaboratorium tersebut. “Kami memang sering menggunakan laboratorium microteaching, bahkan laboratorium tersebut kami gunakan dalam praktik kuliah sehari-hari,” Jelas Linda.
Menyikapi hal tersebut rencananya pihak fakultas akan menambah pembangunan laboratorium microteaching sekitar 6 ruangan agar mahasiswa tidak khawatir akan terjadi bentrok jadwal antarprodi satu dengan yang lain. Selain itu mahasiswa juga bisa menggunakannya secara efektif. “Fakultas rencananya akan menambah 6 laboraturium microteaching.” Pungkas PD II.
Radita _hayun
Langganan:
Postingan (Atom)
